Selasa, November 11, 2008
Pilu
Dan aku merambat naik
Juga menggelung turun
Seperti hari yang lalu
Selalu pilu bertalu
Membuat ngilu benak benalu
Ditambah hari ini
Ada namamu, cerah itu, dan debur yang itu
Mengapa selalu kelu dendangkan lagu?
Duren Sawit, 101108
Senin, November 03, 2008
Lalu Debu
Seperti hari sepanjang debu waktu
Percuma biarkan berlalu dan sejumput kamu
Urung mampu untuk sekedar berlagu
Sembunyi dibelenggu dan bisu
Tertelan dalam rongga kelu
Cukup gema merayu rayu,
'Kupanggil apa dirimu?'
Duren Sawit, 031108
Rabu, Oktober 29, 2008
Minggu, Oktober 19, 2008
Pelanting
Kau jatuhkan kemana puntungmu?
Kata peramal itu berkhasiat, jangan sembarang
Bisa tolak air bah
Bisa tolak orang tak mendekat
Kau perhatikan lampu merahmu?
Kata peramal itu wasiat, jangan pedulikan
Bisa tancap semua kendara
Bisa tancap mati sekalian
Kau nyalakan kotak televisimu?
Lidah peramal bersilat, jangan matikan
Bisa masturbasi kriminal
Bisa pasi kesetanan
Kau rekat kemana akal kotaku?
Lidah terjaring pukat, jangan jangan
Bisa reg ramal reg primbon
Bisa menghitam iman semolek karbon
Duren Sawit, 19102008
Seperti Kucing di Jendela Yang Melompat Dan Tersentak Gitar Tua
Brak!
Retaklah alunan gitar yang mulai menua
Dihantam jendela tempat melompat
Semua nada umpat untuk kaburkan semua
Bayang semu nyata dan semua hina
Seperti kucing di jendela yang melompat dan tersentak gitar tua
Duren Sawit, 19102008
Kamis, Oktober 16, 2008
Kerikil
Nafas lemah di panas kota tua
Coba pejamkan dan jatuh terlena
Datangkan batu besar ratakan kepala dan tanah
Agar bisa lelap benar
Tapi di kerikil kutemukan kamu tertawa
Jangan sampai terinjak
Terlalu manis untuk dilupa
Datangkan elang besar untuk tegur sapa
Terbang kembalikan kerikil penuh tawa
Menyatu tanahmu
Membatu hangatmu
Duren Sawit, 161008
Senin, Juni 23, 2008
Kendara di Kemang
padahal tadi sudah relakan berangkat berhenti tepat di depan
macet teman gumpalan roti dan obat sakit perut
sesal ku hanya longok di depan
depan belakang maju mundur tak keruan
demi bersua biduan di hadapan
entah dada atau kepala tertawan
cuma bisa menyapa dari halaman
bukan puisi ini hanya catatan
gundahnya patut dikasihan
galaunya patut tertawa
terbatuk di ujung gaun biduan
; Begitulah kalau si malu dan rancu kendara di malamnya Kemang
Duren Sawit, 230608
Rabu, Juni 18, 2008
18 Juni 2008
sendiri di tengah keramaian, atau..
sendiri di tengah kesendirian?
terlanjur memaku gerikmu di setiap lajur tembok kepalaku
bahkan rontok pun melanda cat-catnya
bukan karena paku yang dipaksa menancap
tapi lebih kepada lapuknya waktu
urung bersua, sudah terlalu lama
ingin selalu jumpa, lebihkan kadarnya
bukan cat kepada paku atau sebaliknya
tapi aku kepada kamu atau sebaliknya
ingin selalu jumpa, lebih dari alakadarnya
Jumat, Mei 30, 2008
Temani, Lautku
Kama Kawula
Kamis, Mei 08, 2008
Ada Candu Dalam Situs Pertemanan
Supaya tumbuh besar untuk bersandar
Supaya teduh dari terik hujan dan badai
Supaya kita bisa saling bertandang bersila saling cerita
Duren Sawit (since 2004)
http://profiles.friendster.com/imen
Menjadi Tua
Seperti seruputan kopi di menit terakhir
Semakin kental terasa kekal
Semakin binal hadapi pekat
Duren Sawit, 080508
Rabu, Mei 07, 2008
Pungguk
Tapi aku relawan bersedia mengulum
Rasa madu rasa harum
Lidahku begawan ranum
Mulutku adalah biksu
Dan kamu relawan bersedia membisu
Nada biru sayup nafsu
Mulutmu telanjangiku
Mataku adalah rabuk
Tapi kita relawan bersedia merasuk
Memupuk menusuk dua pelupuk
Matamu menjadikanku pemabuk
Kelaminmu adalah serbuk
Dan aku relawan bersedia menangguk
Rasa madu rasa ranum
Kelaminmu menjadikanku si pungguk
Duren Sawit, 070508
Selasa, Mei 06, 2008
Menyendiri Dalam Berbait Puisi
Memaksaku menekan nekan huruf untuk kemudian kau tumpahkan
Pada lapang hijau yang tak dikerumuni pemain bayaran
Pada layar tancap yang tak disesaki penonton dadakan
Memerasku mengundang huruf huruf untuk sekalian kucurahkan
Pada puisi yang tak punya hidup sejak kau berdansa dikerumuni kesendirian
Mau apa lagi aku?
Menatapmu mencari cari celah untuk kemudian kuguratkan
Pada ladang kerontang yang tak dikunjungi sebenih hujan
Pada gambar tak beraturan yang tak diminati pecandu keindahan
Meretasmu dalam angan angan untuk sekalian kugadaikan
Pada puisi yang tak mampu hidup sejak ku terhisap diseruput kesendirian
Duren Sawit, 060508
Bicaralah
Terjerembab aku pada keranda bisumu
Sebabkan berdarah hati merah dan goyah
Karena sumringah gincu gerah tak kunjung berserah
Menggelepar untuk tanya yang kau pun tak kunjung gairah
... lalu hening ...
Terhisap aku pada angin lalumu
Halalkan diam sebagai cadar bisumu
Karena polah dua senyawa yang tak mampu tertawa
Niti jejak berkelok arah, memisah langkah
Merapatlah sayang bila begitu, bila tak mampu
Rekatkan aku pada telingamu, enyah tuliku
Biar sama mendengar yang kita mau
Ucap yang kita mampu,
Untuk merusak bisumu.
Duren Sawit, 060508
Momentum
Berjatuhan di ujung kerling malam yang kau pangku teduh teduh di elok surgamu
Duren Sawit, 060508
Di Pojok Sana
Mengajarimu gerak, tawa, dan masa
Berkariblah sekenanya
Harga seorang lelaki muda pemuja cinta
Kali lain mungkin kau yang menjadi besar
Mengajariku senyum, peluk, dan cium
Benderanglah segalanya
Hanya seorang lelaki muda mengekor mata
Milikmu di pojok sana
Duren Sawit, 060508
Senin, April 28, 2008
Baju Tidur Sang Kapal
Tangguh menghadang karam
Ke lautan yang bukan miliknya
Ke lautan yang buahkan harta rampasan
Kapal malang terhempas
Ke lautan yang bukan dunianya
Menelisik jangkar yang tadi lepas
Di lautan yang kalang cekik lehernya
Karibku sang kapal
Sanggup buyar ombak dengan apinya
Di tungku yang mendingin malam
Di pangkuan berkisah pucat rembulan
Kapal malang tergilas
Ke daratan yang menjadi rahimnya
Menjala ikan dalam lubang galian
Di dunia yang jalang gerogoti segala tiang
Karibku sang kapal
Gapai ombak terdekat dalam badai
Gauli laut yang menderas dada, mencari pegangan
Di rerumpun karang baju tidur malamnya
Duren Sawit, 280408
Menghentak Belum Berlahar
Tentang senyum yang terkembang
Dan segala sedih yang terpampang
Tanpa seijin malaikat malaikatmu
Maaf aku curi pandangmu
Tentang kepolosan yang berpendar
Dan kelabu yang menghadang
Tanpa meterai perjanjian paduka padukamu
Maaf aku terpaksa menyudut di sini
Tentang kamera yang menatap kosong
Dan merbabu yang menggempa
Menghentak belum berani berlahar di pelupukmu
Duren Sawit, 280408
Sapa Ku Lagi
Dalam bilur maya kembang tidur tak terpatri
Tak hanya itu
Kau baluri aku dalam semayam penuh duri
Kau haru kan ku lagi
Di luar segala tentang hidup yang makin berarti
Tak mampu begitu
Kau basuh aku dalam temaram mata terpejam tak peduli
Duren Sawit, 280408