Senin, November 03, 2008

Lalu Debu

Seperti hari sepanjang debu waktu

Percuma biarkan berlalu dan sejumput kamu

Urung mampu untuk sekedar berlagu

Sembunyi dibelenggu dan bisu

Tertelan dalam rongga kelu

Cukup gema merayu rayu,

'Kupanggil apa dirimu?'

Duren Sawit, 031108

Rabu, Oktober 29, 2008

Hatiku Api

Ingin kusampaikan padamu hutan,

Aku membakar



Duren Sawit, 291008

Minggu, Oktober 19, 2008

Pelanting

Kau jatuhkan kemana puntungmu?

Kata peramal itu berkhasiat, jangan sembarang

Bisa tolak air bah

Bisa tolak orang tak mendekat


Kau perhatikan lampu merahmu?

Kata peramal itu wasiat, jangan pedulikan

Bisa tancap semua kendara

Bisa tancap mati sekalian


Kau nyalakan kotak televisimu?

Lidah peramal bersilat, jangan matikan

Bisa masturbasi kriminal

Bisa pasi kesetanan


Kau rekat kemana akal kotaku?

Lidah terjaring pukat, jangan jangan

Bisa reg ramal reg primbon

Bisa menghitam iman semolek karbon


Duren Sawit, 19102008

Seperti Kucing di Jendela Yang Melompat Dan Tersentak Gitar Tua

Brak!

Retaklah alunan gitar yang mulai menua

Dihantam jendela tempat melompat

Semua nada umpat untuk kaburkan semua

Bayang semu nyata dan semua hina

Seperti kucing di jendela yang melompat dan tersentak gitar tua


Duren Sawit, 19102008

Kamis, Oktober 16, 2008

Kerikil

Secuil hampa terjumput di antara hela
Nafas lemah di panas kota tua
Coba pejamkan dan jatuh terlena
Datangkan batu besar ratakan kepala dan tanah
Agar bisa lelap benar

Tapi di kerikil kutemukan kamu tertawa
Jangan sampai terinjak
Terlalu manis untuk dilupa
Datangkan elang besar untuk tegur sapa
Terbang kembalikan kerikil penuh tawa
Menyatu tanahmu
Membatu hangatmu


Duren Sawit, 161008

Senin, Juni 23, 2008

Kendara di Kemang

sesal sedang senang menarik-narik di belakang
padahal tadi sudah relakan berangkat berhenti tepat di depan
macet teman gumpalan roti dan obat sakit perut
sesal ku hanya longok di depan

depan belakang maju mundur tak keruan
demi bersua biduan di hadapan
entah dada atau kepala tertawan
cuma bisa menyapa dari halaman

bukan puisi ini hanya catatan
gundahnya patut dikasihan
galaunya patut tertawa
terbatuk di ujung gaun biduan

; Begitulah kalau si malu dan rancu kendara di malamnya Kemang


Duren Sawit, 230608

Rabu, Juni 18, 2008

18 Juni 2008

catatan kecil 0:29 selasa malam

sendiri di tengah keramaian, atau..
sendiri di tengah kesendirian?
terlanjur memaku gerikmu di setiap lajur tembok kepalaku
bahkan rontok pun melanda cat-catnya
bukan karena paku yang dipaksa menancap
tapi lebih kepada lapuknya waktu
urung bersua, sudah terlalu lama
ingin selalu jumpa, lebihkan kadarnya
bukan cat kepada paku atau sebaliknya
tapi aku kepada kamu atau sebaliknya
ingin selalu jumpa, lebih dari alakadarnya

Jumat, Mei 30, 2008

Temani, Lautku

Temani aku, lautku
Berpuisikan ombak yang memecah 
kebisuan
Bermandikan surya yang melabrak
kesunyian
Tentang aku dan hariku
Dan sebutir tafakur di percikMu


Pantai Festival, 080508

Kama Kawula

Gelombang kama meniduriku
Pasang petang menangguk bulan
Madu dan hara saksi kawula
Dilanda beribu hunjam tertahan

Tumpahkan aku, tumpahkan aku!
Dan jerit
Dan jerit
Morat marit

Gemintang kama menelangkup ku
Di setiap tetes sesengguk hujan
Malu dan bara saksi kawula
Dilanda beribu nikmat terbilang


Duren Sawit, 290508

Kamis, Mei 08, 2008

Ada Candu Dalam Situs Pertemanan

Cuma butuh payung bekal bercocok tanam
Supaya tumbuh besar untuk bersandar
Supaya teduh dari terik hujan dan badai
Supaya kita bisa saling bertandang bersila saling cerita



Duren Sawit (since 2004)

http://profiles.friendster.com/imen

Menjadi Tua

Menjadi tua adalah nikmat
Seperti seruputan kopi di menit terakhir
Semakin kental terasa kekal
Semakin binal hadapi pekat



Duren Sawit, 080508

Rabu, Mei 07, 2008

Pungguk

Lidahmu adalah jarum
Tapi aku relawan bersedia mengulum
Rasa madu rasa harum
Lidahku begawan ranum

Mulutku adalah biksu
Dan kamu relawan bersedia membisu
Nada biru sayup nafsu
Mulutmu telanjangiku

Mataku adalah rabuk
Tapi kita relawan bersedia merasuk
Memupuk menusuk dua pelupuk
Matamu menjadikanku pemabuk

Kelaminmu adalah serbuk
Dan aku relawan bersedia menangguk
Rasa madu rasa ranum
Kelaminmu menjadikanku si pungguk


Duren Sawit, 070508

Selasa, Mei 06, 2008

Menyendiri Dalam Berbait Puisi

Mau apa lagi kamu?

Memaksaku menekan nekan huruf untuk kemudian kau tumpahkan
Pada lapang hijau yang tak dikerumuni pemain bayaran
Pada layar tancap yang tak disesaki penonton dadakan
Memerasku mengundang huruf huruf untuk sekalian kucurahkan
Pada puisi yang tak punya hidup sejak kau berdansa dikerumuni kesendirian

Mau apa lagi aku?

Menatapmu mencari cari celah untuk kemudian kuguratkan
Pada ladang kerontang yang tak dikunjungi sebenih hujan
Pada gambar tak beraturan yang tak diminati pecandu keindahan
Meretasmu dalam angan angan untuk sekalian kugadaikan
Pada puisi yang tak mampu hidup sejak ku terhisap diseruput kesendirian


Duren Sawit, 060508

Bicaralah

Pekat!

Terjerembab aku pada keranda bisumu
Sebabkan berdarah hati merah dan goyah
Karena sumringah gincu gerah tak kunjung berserah
Menggelepar untuk tanya yang kau pun tak kunjung gairah

... lalu hening ...

Terhisap aku pada angin lalumu
Halalkan diam sebagai cadar bisumu
Karena polah dua senyawa yang tak mampu tertawa
Niti jejak berkelok arah, memisah langkah

Merapatlah sayang bila begitu, bila tak mampu
Rekatkan aku pada telingamu, enyah tuliku
Biar sama mendengar yang kita mau
Ucap yang kita mampu,
Untuk merusak bisumu.



Duren Sawit, 060508

Momentum

Dan aku sangat ingin memutuskan;

Berjatuhan di ujung kerling malam yang kau pangku teduh teduh di elok surgamu



Duren Sawit, 060508

Di Pojok Sana

Sekali ini mungkin aku tampak besar
Mengajarimu gerak, tawa, dan masa
Berkariblah sekenanya
Harga seorang lelaki muda pemuja cinta

Kali lain mungkin kau yang menjadi besar
Mengajariku senyum, peluk, dan cium
Benderanglah segalanya
Hanya seorang lelaki muda mengekor mata
Milikmu di pojok sana



Duren Sawit, 060508

Senin, April 28, 2008

Baju Tidur Sang Kapal

Karibku sang kapal
Tangguh menghadang karam
Ke lautan yang bukan miliknya
Ke lautan yang buahkan harta rampasan

Kapal malang terhempas
Ke lautan yang bukan dunianya
Menelisik jangkar yang tadi lepas
Di lautan yang kalang cekik lehernya

Karibku sang kapal
Sanggup buyar ombak dengan apinya
Di tungku yang mendingin malam
Di pangkuan berkisah pucat rembulan

Kapal malang tergilas
Ke daratan yang menjadi rahimnya
Menjala ikan dalam lubang galian
Di dunia yang jalang gerogoti segala tiang

Karibku sang kapal
Gapai ombak terdekat dalam badai
Gauli laut yang menderas dada, mencari pegangan
Di rerumpun karang baju tidur malamnya


Duren Sawit, 280408

Menghentak Belum Berlahar

Maaf aku ambil gambarmu
Tentang senyum yang terkembang
Dan segala sedih yang terpampang
Tanpa seijin malaikat malaikatmu

Maaf aku curi pandangmu
Tentang kepolosan yang berpendar
Dan kelabu yang menghadang
Tanpa meterai perjanjian paduka padukamu

Maaf aku terpaksa menyudut di sini
Tentang kamera yang menatap kosong
Dan merbabu yang menggempa
Menghentak belum berani berlahar di pelupukmu

Duren Sawit, 280408

Sapa Ku Lagi

Kau sapa ku lagi
Dalam bilur maya kembang tidur tak terpatri
Tak hanya itu
Kau baluri aku dalam semayam penuh duri

Kau haru kan ku lagi
Di luar segala tentang hidup yang makin berarti
Tak mampu begitu
Kau basuh aku dalam temaram mata terpejam tak peduli


Duren Sawit, 280408

Senin, April 14, 2008

Awas, Lidahmu Bercacing

Hati hati dengan jilatanmu
Kemarin tersedak angka itu pejabat yang sembunyi di amplop bawah meja

Hati hati dengan jilatanmu
Kemarin tersilet meterai itu si penghutang tak bisa berkelit tak urung bekernyit

Hati hati dengan jilatanmu
Kemarin terantuk paku itu si pengumbar nyawa di licin aspal keras selap selip di kepadatan

Hati hati dengan jilatanmu
Kemarin tergugurkan itu si penoda cinta dalam bunting nurani simpanan perawan alit

Dan kabar burung terbaru para penjaja senyum adalah
ada cacing cacing yang nanti menghuni mulutmu beranak pinak
bila tak kau jemur panas matahari dengan ramah sapamu

Hati hati dengan jilatanmu
Nanti tak mampu bicara seperti cacing hanya menggeliat tak bermakna seperti kemarin


Duren Sawit, 140408