riak kecil di halaman,
... bilang ia, ‘sudah reda’
cuma tergenang bergoyang
ditiupan angin
dua kupu kecil kuning;
mungkinkah mereka sejoli?
menghampiri bebungaan
selami angin
bersama kaki kaki kecil
anak desa dan mainan
menantang tersapu siang
riak kecil pun menghilang
sudah reda memang
ah, segarnya!
Jatinangor 1998
Jumat, Januari 20, 2006
jauh.
jauh.
aku ini jauh. aku ini jarak.
di dalamku ada senggang, kosong,
dan rindu
aku terlanjur. aku membiasa.
di kelilingku ada wasangka, cemooh,
dan harapan
aku terlanjur. aku membiar.
lihat di kejauhan.
itulah aku.
Jatinangor 1998
aku ini jauh. aku ini jarak.
di dalamku ada senggang, kosong,
dan rindu
aku terlanjur. aku membiasa.
di kelilingku ada wasangka, cemooh,
dan harapan
aku terlanjur. aku membiar.
lihat di kejauhan.
itulah aku.
Jatinangor 1998
jorok.
keringat-keringat lengket
bantal-bantal geliat
irama-irama bantal
lenguh-lenguh irama
sprei-sprei lenguh
percik-percik sprei
menit-menit basah
kulit-kulit menit
geliat-geliat kulit
lengket-lengket keringat
jorok!
Jatinangor 1998
bantal-bantal geliat
irama-irama bantal
lenguh-lenguh irama
sprei-sprei lenguh
percik-percik sprei
menit-menit basah
kulit-kulit menit
geliat-geliat kulit
lengket-lengket keringat
jorok!
Jatinangor 1998
matahari matahari dan bulan bulan.
seperti matahari aku ingin,
mendekap melindungi sekutu-sekutu kecilnya
‘semoga aku punya terbitmu untuk menerangi’
seperti bulan aku pun ingin,
mendekap mengayomi malam
dari buruknya kegelapan
‘semoga aku punya purnamamu untuk menerangi’
seperti matahari-matahari
bagaikan bulan-bulan
seperti dan bagaikan
matahari matahari dan bulan bulan
Jatinangor 1998
mendekap melindungi sekutu-sekutu kecilnya
‘semoga aku punya terbitmu untuk menerangi’
seperti bulan aku pun ingin,
mendekap mengayomi malam
dari buruknya kegelapan
‘semoga aku punya purnamamu untuk menerangi’
seperti matahari-matahari
bagaikan bulan-bulan
seperti dan bagaikan
matahari matahari dan bulan bulan
Jatinangor 1998
amuk.
amukku bertengger di tengkuk
mendesak menyekat tenggorokan
mengikat lidah gelayut hati tertekuk
sudah putus
pupus
mulai menggelembung ingin pecah
menggumpal, ingin menghambur
mengikat hati merajam otak terperah
tersumbat pepat
tercipta lepat
LIHAT ITU! LIHAT ITU!
Amukku pun muntah perlahan-lahan
Lihat saudaraku berguguran akalnya
Hoek!
Jatinangor, Mei 1998
mendesak menyekat tenggorokan
mengikat lidah gelayut hati tertekuk
sudah putus
pupus
mulai menggelembung ingin pecah
menggumpal, ingin menghambur
mengikat hati merajam otak terperah
tersumbat pepat
tercipta lepat
LIHAT ITU! LIHAT ITU!
Amukku pun muntah perlahan-lahan
Lihat saudaraku berguguran akalnya
Hoek!
Jatinangor, Mei 1998
jatuh.
ingin cepat sampai!
(belum ashar...)
ingin dahului semua!
(..terus kebut!)
80 km/jam
(terus kebut!..)
ikuti mobil itu!
(cepat!)
... berapa sih kecepatanku? ...
aku dibelakang
Tidak.
Ada lubang besar.
Tidak.
Ingin kukendalikan.
Tidak.
Jatuh.
Jatinangor 1998
(belum ashar...)
ingin dahului semua!
(..terus kebut!)
80 km/jam
(terus kebut!..)
ikuti mobil itu!
(cepat!)
... berapa sih kecepatanku? ...
aku dibelakang
Tidak.
Ada lubang besar.
Tidak.
Ingin kukendalikan.
Tidak.
Jatuh.
Jatinangor 1998
sepi.
Mau tahu sepi itu apa?
Ah, aku terlalu takut untuk berbicara, menelurkan sebutir kata, apapun itu ... wah, tidak. Aku takut akan sepi.
Dia jahat. Lebih jahat dari keramaian.
Dan daripada berbait-bait mencari tahu apa sepi itu, mungkin lebih baik aku coba hembuskan nafas keras-keras. Agar aku tahu aku tidak sendiri. Tidak merasa sunyi.
Sepi.
Jatinangor 1997
Dari ‘Tiga momen enam belas juni sembilan tujuh’
Ah, aku terlalu takut untuk berbicara, menelurkan sebutir kata, apapun itu ... wah, tidak. Aku takut akan sepi.
Dia jahat. Lebih jahat dari keramaian.
Dan daripada berbait-bait mencari tahu apa sepi itu, mungkin lebih baik aku coba hembuskan nafas keras-keras. Agar aku tahu aku tidak sendiri. Tidak merasa sunyi.
Sepi.
Jatinangor 1997
Dari ‘Tiga momen enam belas juni sembilan tujuh’
Anyer, 26 April 2001.
Teruntuk Adinda dimanapun kau berada.
Adindaku sayang, aku sudah tiba di sini. Mungkin kau tak kan percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Tapi aku benar-benar berada di sini. Kau tahu aku dimana? Ah, aku lupa ... bukankah aku sudah menuliskannya di langit-langit suratku ini? Dan kau pun pasti tidak sebodoh aku yang selalu melewatkan momen-momen kecil seperti hari, atau tanggal yang tertera setiap lembaran surat bagaikan sarang laba-laba yang selalu bergantung di atas meja tulisku.
Lalu? Bagaimana Dinda? Sudahkah kini kau percaya? Dari helaan ringan nafasmu yang (tentunya) memaklumi basa-basiku di atas pastilah kau sudah nyana tempat apa yang kumaksud dengan ke’tiba’anku kini.
Aku di bibir pantai, sayang …
Maafkan aku yang terlalu sok puitis menempatkan kalimat tersebut dengan makna italik yang landai.
... mungkin selandai kaki-kaki kecilku yang diam-diam menari bersama pasir putih
“Hahahahehe...”. Wah, bahkan lembaran ini menertawakan kepujanggaanku yang masih berusia balita. Dan kau pasti kini sedang tersenyum. Terima kasih sayang, sebingkai senyum sangatlah berharga bagiku. Jadi, itukah tandanya aku boleh meneruskan apa yang baru saja kumulai?
Adinda, ingatkah kau ketika kau mengira bahwa perjalanan ini tak kan dapat terwujud? Ternyata engkau keliru sayang, aku pun juga mungkin dulu berprasangka sama sepertimu, tapi tidak. Tidak begitu. Kusaksikan sendiri adanya tangan-tangan lain yang mendorong perahu kami sampai melabuhkan diri di sini. Tangan-tangan sahabat. Dan inilah pasir, inilah matahari, inilah asin laut, inilah kami, dengan tangan-tangan kecil kami yang jelmaannya mampu menghangatkan malam dengan nyanyian-nyanyian, mempermalukan api unggun yang keburu menyembunyikan dirinya di hangatnya pasir putih pantai ini.
Adindaku sayang, mungkin kini kau menyesali ketiadaanmu di sini, di sampingku. Tapi kuharap engkau terhibur dengan huruf-huruf yang kulayangkan kepadamu ini. Biarkan mereka mendendangkan dawai-dawai cahaya pagi yang membangunkan tidur kami di bawah buaian pohon kelapa. Walaupun sebenarnya aku sendiri was was dan khawatir bilakah nanti salah satu buahnya nekat menjatuhkan dirinya ke kepalaku yang sedang tertidur pulas?
…dengarlah betapa gagahnya ombak yang mendebur karang di pucuk-pucuk horison pandanganmu yang perlahan mulai mengatup dan tertidur …
Adinda, selintas aku pun merasa takut jua. Dan merasa kecil. Lebih kecil dari sel-sel kulitku yang terkadang membesar mengharapkan hangatnya bersentuhan dengan mentari di dinginnya malam. Pernahkah kau duduk di kanal-kanal, bertemankan gelap, debur ombak, dan gelegar kilat yang sibuk mencoretkan sketsanya di atas kepala-kepala kami? Di dinding-dinding angkasa yang menamakan dirinya; malam? Di sanalah aku merasa menyapa dirinya. Diriku yang kecil itu terlihat menggapai-gapai mengharapkan senyuman. Dan seketika itu pulalah aku bisa menghadirkan dirimu yang jauh ini di hadapanku, tersenyum. Bersama dengan semua yang ada di sini. Semua. Tersenyum kepadaku. Apakah kau tahu betapa indahnya saat-saat seperti itu? Saat-saat dimana engkau tahu bahwa engkau tidaklah sendiri. Ada jiwa-jiwa lain yang aku tahu mereka pun merasakan ketakutan yang sama sepertiku. Tapi semua ketakutan itu pun turut hilang bersama dengan redupnya gemuruh petir yang sayup terdengar di kejauhan.
…aku kini berdiri di kanal merengkuh semua jiwa yang tersenyum …
Adinda sayang, malam pun lewat sudah, fajar telah mengetuk mataku. Aku terbangun. Sejenak kuhirup wangi tubuhmu di kejauhan. Dan kuhampiri horison sekali lagi untuk menanyakan kepada mentari tentang kebodohanku. “...kutunggu engkau kemarin untuk terbenam-mu, akankah kini kau tampakkan terbit-mu? Mmm … kuharap jangan dulu. Hari ini bukan akhir dunia, bukan?”, pikirku polos. Dan seketika itu pula aku tertawakan kesadaranku yang belum utuh benar kukumpulkan dari ujung-ujung akar kelapa yang bergantungan di pohon kelapa, tempat ku dibuai semalam.
Adinda, pagiku ditemani dengan suara tawa, selembar tikar, komik jepang, dan tubuhku yang berbaring santai di bawah bayang nyiur. Aku lihat sahabat bercengkerama dengan ombak, ada yang baru pendekatan, ada yang masih malu-malu, walau tidak sedikit pula yang sudah kenal lebih dekat dan lebih intim. Mereka semua tertawa. Adinda, pernahkah kau hirup harumnya suara-suara canda sahabat? Berbaur dengan percikan laut yang diam-diam secara nakal membasahi tubuh-tubuh riang yang berlarian?
…dan aku terbaring kekenyangan, menyantap beribu aroma sahabat di udara … sambil membaca komik tentunya, hahaha …
Adinda sayang, maafkan aku yang hanya melukiskan kegembiraan dan tawa riang sang alam saja di lembaran ini. Walaupun sebenarnya ada beberapa momen yang sempat menjadi primadona di sini. Apakah itu rasa gelisah, rasa dendam, rasa kesal, mungkin semuanya lebur sudah. Hilang tertelan riuhnya tangan-tangan yang berebut, mencoba menangkap bola di kolam air. Hilang terikat liatnya pasir yang terbentuk oleh tangan-tangan kecil yang mencoba menangkap suasana di sekelilingnya. Hilang. Dan yang tersisa tinggal tawa.
Adinda sayang, sediakah kau kudefinisikan beberapa tawa dan senyuman yang belum sempat disebutkan di sini? Baiklah, bisa aku mulai? Hahahaha, tawa ini adalah tawa atas lembaran tulisan ini yang terlalu arogan untuk mencoba berpuitis kepadamu kekasihku. Ada pula tawa disana, yang ternyata menertawakan bon-bon minuman yang membuat kami mabuk laut di genangan harga yang seluaaangit, hahahaha ... sedangkan tawa yang di sampingnya lagi adalah tawa gelisah lidah-lidah kami yang harus merasakan hidangan rasa warung seafood pinggir jalan dengan ongkos rasa kafe-kafe ternama di kota-kota besar. Tapi yah, untung kau tidak turut serta sayang, kalau iya mungkin kau akan bersungut-sungut dan melimpahkan pembayarannya kepadaku. Tahukah kau ini akhir bulan, sayang??
Adinda, mungkin sekian dulu suratku ini. Bisikkanlah huruf-hurufnya dengan lembut nafasmu. Simpanlah kerang-kerang putih yang kubawakan dari laut untukmu. Jadikanlah mereka pendongeng kala tidur di malam-malammu. Dan mungkin lain waktu kau bisa kuajak melihat-lihat sekutip kenangan milikku dan sahabat-sahabatku. Sembari mengecek bentuk-bentuk pasir yang kemarin utuh. Sudahkah mereka hilang ditiup oleh angin laut, ataukah mereka masih saja liat dan menempati pantai tempat ku berbaring? Atau mungkinkah semua kenangan itu tinggal hanya untuk menjadi kenangan?
… dan aku akan tunggu simpul-simpul jawabanmu bersama buih-buih yang menghampiriku di bibir pantai ini.
Jakarta 2001
Adindaku sayang, aku sudah tiba di sini. Mungkin kau tak kan percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Tapi aku benar-benar berada di sini. Kau tahu aku dimana? Ah, aku lupa ... bukankah aku sudah menuliskannya di langit-langit suratku ini? Dan kau pun pasti tidak sebodoh aku yang selalu melewatkan momen-momen kecil seperti hari, atau tanggal yang tertera setiap lembaran surat bagaikan sarang laba-laba yang selalu bergantung di atas meja tulisku.
Lalu? Bagaimana Dinda? Sudahkah kini kau percaya? Dari helaan ringan nafasmu yang (tentunya) memaklumi basa-basiku di atas pastilah kau sudah nyana tempat apa yang kumaksud dengan ke’tiba’anku kini.
Aku di bibir pantai, sayang …
Maafkan aku yang terlalu sok puitis menempatkan kalimat tersebut dengan makna italik yang landai.
... mungkin selandai kaki-kaki kecilku yang diam-diam menari bersama pasir putih
“Hahahahehe...”. Wah, bahkan lembaran ini menertawakan kepujanggaanku yang masih berusia balita. Dan kau pasti kini sedang tersenyum. Terima kasih sayang, sebingkai senyum sangatlah berharga bagiku. Jadi, itukah tandanya aku boleh meneruskan apa yang baru saja kumulai?
Adinda, ingatkah kau ketika kau mengira bahwa perjalanan ini tak kan dapat terwujud? Ternyata engkau keliru sayang, aku pun juga mungkin dulu berprasangka sama sepertimu, tapi tidak. Tidak begitu. Kusaksikan sendiri adanya tangan-tangan lain yang mendorong perahu kami sampai melabuhkan diri di sini. Tangan-tangan sahabat. Dan inilah pasir, inilah matahari, inilah asin laut, inilah kami, dengan tangan-tangan kecil kami yang jelmaannya mampu menghangatkan malam dengan nyanyian-nyanyian, mempermalukan api unggun yang keburu menyembunyikan dirinya di hangatnya pasir putih pantai ini.
Adindaku sayang, mungkin kini kau menyesali ketiadaanmu di sini, di sampingku. Tapi kuharap engkau terhibur dengan huruf-huruf yang kulayangkan kepadamu ini. Biarkan mereka mendendangkan dawai-dawai cahaya pagi yang membangunkan tidur kami di bawah buaian pohon kelapa. Walaupun sebenarnya aku sendiri was was dan khawatir bilakah nanti salah satu buahnya nekat menjatuhkan dirinya ke kepalaku yang sedang tertidur pulas?
…dengarlah betapa gagahnya ombak yang mendebur karang di pucuk-pucuk horison pandanganmu yang perlahan mulai mengatup dan tertidur …
Adinda, selintas aku pun merasa takut jua. Dan merasa kecil. Lebih kecil dari sel-sel kulitku yang terkadang membesar mengharapkan hangatnya bersentuhan dengan mentari di dinginnya malam. Pernahkah kau duduk di kanal-kanal, bertemankan gelap, debur ombak, dan gelegar kilat yang sibuk mencoretkan sketsanya di atas kepala-kepala kami? Di dinding-dinding angkasa yang menamakan dirinya; malam? Di sanalah aku merasa menyapa dirinya. Diriku yang kecil itu terlihat menggapai-gapai mengharapkan senyuman. Dan seketika itu pulalah aku bisa menghadirkan dirimu yang jauh ini di hadapanku, tersenyum. Bersama dengan semua yang ada di sini. Semua. Tersenyum kepadaku. Apakah kau tahu betapa indahnya saat-saat seperti itu? Saat-saat dimana engkau tahu bahwa engkau tidaklah sendiri. Ada jiwa-jiwa lain yang aku tahu mereka pun merasakan ketakutan yang sama sepertiku. Tapi semua ketakutan itu pun turut hilang bersama dengan redupnya gemuruh petir yang sayup terdengar di kejauhan.
…aku kini berdiri di kanal merengkuh semua jiwa yang tersenyum …
Adinda sayang, malam pun lewat sudah, fajar telah mengetuk mataku. Aku terbangun. Sejenak kuhirup wangi tubuhmu di kejauhan. Dan kuhampiri horison sekali lagi untuk menanyakan kepada mentari tentang kebodohanku. “...kutunggu engkau kemarin untuk terbenam-mu, akankah kini kau tampakkan terbit-mu? Mmm … kuharap jangan dulu. Hari ini bukan akhir dunia, bukan?”, pikirku polos. Dan seketika itu pula aku tertawakan kesadaranku yang belum utuh benar kukumpulkan dari ujung-ujung akar kelapa yang bergantungan di pohon kelapa, tempat ku dibuai semalam.
Adinda, pagiku ditemani dengan suara tawa, selembar tikar, komik jepang, dan tubuhku yang berbaring santai di bawah bayang nyiur. Aku lihat sahabat bercengkerama dengan ombak, ada yang baru pendekatan, ada yang masih malu-malu, walau tidak sedikit pula yang sudah kenal lebih dekat dan lebih intim. Mereka semua tertawa. Adinda, pernahkah kau hirup harumnya suara-suara canda sahabat? Berbaur dengan percikan laut yang diam-diam secara nakal membasahi tubuh-tubuh riang yang berlarian?
…dan aku terbaring kekenyangan, menyantap beribu aroma sahabat di udara … sambil membaca komik tentunya, hahaha …
Adinda sayang, maafkan aku yang hanya melukiskan kegembiraan dan tawa riang sang alam saja di lembaran ini. Walaupun sebenarnya ada beberapa momen yang sempat menjadi primadona di sini. Apakah itu rasa gelisah, rasa dendam, rasa kesal, mungkin semuanya lebur sudah. Hilang tertelan riuhnya tangan-tangan yang berebut, mencoba menangkap bola di kolam air. Hilang terikat liatnya pasir yang terbentuk oleh tangan-tangan kecil yang mencoba menangkap suasana di sekelilingnya. Hilang. Dan yang tersisa tinggal tawa.
Adinda sayang, sediakah kau kudefinisikan beberapa tawa dan senyuman yang belum sempat disebutkan di sini? Baiklah, bisa aku mulai? Hahahaha, tawa ini adalah tawa atas lembaran tulisan ini yang terlalu arogan untuk mencoba berpuitis kepadamu kekasihku. Ada pula tawa disana, yang ternyata menertawakan bon-bon minuman yang membuat kami mabuk laut di genangan harga yang seluaaangit, hahahaha ... sedangkan tawa yang di sampingnya lagi adalah tawa gelisah lidah-lidah kami yang harus merasakan hidangan rasa warung seafood pinggir jalan dengan ongkos rasa kafe-kafe ternama di kota-kota besar. Tapi yah, untung kau tidak turut serta sayang, kalau iya mungkin kau akan bersungut-sungut dan melimpahkan pembayarannya kepadaku. Tahukah kau ini akhir bulan, sayang??
Adinda, mungkin sekian dulu suratku ini. Bisikkanlah huruf-hurufnya dengan lembut nafasmu. Simpanlah kerang-kerang putih yang kubawakan dari laut untukmu. Jadikanlah mereka pendongeng kala tidur di malam-malammu. Dan mungkin lain waktu kau bisa kuajak melihat-lihat sekutip kenangan milikku dan sahabat-sahabatku. Sembari mengecek bentuk-bentuk pasir yang kemarin utuh. Sudahkah mereka hilang ditiup oleh angin laut, ataukah mereka masih saja liat dan menempati pantai tempat ku berbaring? Atau mungkinkah semua kenangan itu tinggal hanya untuk menjadi kenangan?
… dan aku akan tunggu simpul-simpul jawabanmu bersama buih-buih yang menghampiriku di bibir pantai ini.
Jakarta 2001
abi ummi.
Sesaat tadi aku berlayar
Berkelana berusaha bertautan
Betapa dangkal waktu untukku kini;
Sesaat tadi aku kembali. Kekal.
Sejenak tadi aku selami
Masa ku berpautkan keduanya
Mencoba raih lengan penuh peluh;
Sejenak tadi aku tenggelam. Damai.
Sekuat apakah engkau?
Wahai hamba-hamba penggenggam amanat Kuasa?
Wahai pemelihara penyapih sembilan bulanku?
Setangguh karangkah engkau?
Sesaat tadi aku terdampar
Berkecamuk tanya liar di hutanku
Berkaca pada semua tanya;
Saat kutemukan sejengkal kata
Terimakasihku untuk kasih sayangmu.
Jakarta 2001
Berkelana berusaha bertautan
Betapa dangkal waktu untukku kini;
Sesaat tadi aku kembali. Kekal.
Sejenak tadi aku selami
Masa ku berpautkan keduanya
Mencoba raih lengan penuh peluh;
Sejenak tadi aku tenggelam. Damai.
Sekuat apakah engkau?
Wahai hamba-hamba penggenggam amanat Kuasa?
Wahai pemelihara penyapih sembilan bulanku?
Setangguh karangkah engkau?
Sesaat tadi aku terdampar
Berkecamuk tanya liar di hutanku
Berkaca pada semua tanya;
Saat kutemukan sejengkal kata
Terimakasihku untuk kasih sayangmu.
Jakarta 2001
sepi menggelayut.
Aku terbunuh. Aku mati.
Beribu mil rindu terburai di tanah
Berjuta sel cinta terkuak bernanah
Aku terkoyak. Aku mati.
Aku tergerai. Aku mati.
Tidakkah ku merasa senang?
Tidak bolehkah ku undang tanya?
Aku tergolek. Aku mati.
Aku terbakar. Aku mati.
Sesakku didekap tercekik cinta
Sopankah ku lontarkan harap?
Aku dan sepi. menggelayut.
Jakarta 2001
Beribu mil rindu terburai di tanah
Berjuta sel cinta terkuak bernanah
Aku terkoyak. Aku mati.
Aku tergerai. Aku mati.
Tidakkah ku merasa senang?
Tidak bolehkah ku undang tanya?
Aku tergolek. Aku mati.
Aku terbakar. Aku mati.
Sesakku didekap tercekik cinta
Sopankah ku lontarkan harap?
Aku dan sepi. menggelayut.
Jakarta 2001
hanya bertanya.
Jemariku menumpul dan bernoda
Mungkin sudah berjuta cinta kukutip
Dan berjuta rindu kutitip
Tapi, adakah pendengar seumpama bisikan?
Rambutku memutih dan berceraian
Mungkin sudah beribu kali kucari definisi
Dan beribu lagi kulukis arti
Tapi, adakah kau selayak imaji?
Pinggangku mengecil dan terbiarkan
Mungkin sudah bermiliar sel kusumbangkan
Mungkin bermiliar lagi kukorbankan
Tapi, adakah terjawab semua pinta?
Dadaku mengempis dan terguncang
Mungkin sudah habis rusuk kucabut
Mungkin sudah tercipta semua cinta untukku
Tapi, adakah tercipta untukku suatu dirimu?
Jakarta 2001
Mungkin sudah berjuta cinta kukutip
Dan berjuta rindu kutitip
Tapi, adakah pendengar seumpama bisikan?
Rambutku memutih dan berceraian
Mungkin sudah beribu kali kucari definisi
Dan beribu lagi kulukis arti
Tapi, adakah kau selayak imaji?
Pinggangku mengecil dan terbiarkan
Mungkin sudah bermiliar sel kusumbangkan
Mungkin bermiliar lagi kukorbankan
Tapi, adakah terjawab semua pinta?
Dadaku mengempis dan terguncang
Mungkin sudah habis rusuk kucabut
Mungkin sudah tercipta semua cinta untukku
Tapi, adakah tercipta untukku suatu dirimu?
Jakarta 2001
aku anak jalanan.
mengecil kakiku terhisap raksasa kala
bengkak genggamku memayungi sang budak
hitamkan jasadku tahta peluh keringat
membakar rambutku percik bintang api
urat lenganku beradu darah daging
panas lidahku membisik dan menyeru
lirih mataku mengerling sejauh cita
serak suaraku nyaringkan ramai
definisikan aku kerikil dan debu
nafaskan aku satu kalimat rapalan,
AKU, anak jalanan.
Jakarta 2001
sahabat.
Sahabat. Sepenggal tata surya kompleksitas dan umpama serangkum jiwa tetumbuhan.
Biar tumbuh, mekar, berkembang, dan berbuah.
Sampai akhirnya berulat, busuk, dan mati. Rata.
Dan biarkan menggelembung urat-urat di bumi, menggunung, dan letupkan benih-benih yang pulas tertidur di ayoman ibunda. Karena suatu saat nanti ia akan menyulurkan sungut-sungut dari jemarinya, membelah lahar kesunyian yang makin mendinginkan tengkuk. Menghirup segala zat hidup yang memberinya damai.
Dan biarkan terus hidup. Menggapai permukaan bumi dan angkasa-angkasa. Menyeruak dari gelap tanah dan tajam kerikil-kerikil. Hembuskan kesegaran di atasnya. Biarkan tumbuh, mekar, berkembang, dan berbuah.
Lagi.
Seumpama sahabat-sahabat; Yang terus hadirkan mekar dan segar di setiap percik udara yang terhirup di pinggir sungai beriak ini. Seumpama sahabat-sahabat. Yang tiada pernah lelah meniadakan ketiadaan, dan menyederhanakan segala rumusan dunia senantiasa terngiang di pojok marjinal setiap kesejatian. Dan dengar semilir pohon bijak itu tentang sahabat;
Jangan harapkan sahabat terbaik untuk hidupmu, tapi jadikan dirimu sebagai yang terbaik bagi semua sahabat sejatimu.
Bandung 2001
Biar tumbuh, mekar, berkembang, dan berbuah.
Sampai akhirnya berulat, busuk, dan mati. Rata.
Dan biarkan menggelembung urat-urat di bumi, menggunung, dan letupkan benih-benih yang pulas tertidur di ayoman ibunda. Karena suatu saat nanti ia akan menyulurkan sungut-sungut dari jemarinya, membelah lahar kesunyian yang makin mendinginkan tengkuk. Menghirup segala zat hidup yang memberinya damai.
Dan biarkan terus hidup. Menggapai permukaan bumi dan angkasa-angkasa. Menyeruak dari gelap tanah dan tajam kerikil-kerikil. Hembuskan kesegaran di atasnya. Biarkan tumbuh, mekar, berkembang, dan berbuah.
Lagi.
Seumpama sahabat-sahabat; Yang terus hadirkan mekar dan segar di setiap percik udara yang terhirup di pinggir sungai beriak ini. Seumpama sahabat-sahabat. Yang tiada pernah lelah meniadakan ketiadaan, dan menyederhanakan segala rumusan dunia senantiasa terngiang di pojok marjinal setiap kesejatian. Dan dengar semilir pohon bijak itu tentang sahabat;
Jangan harapkan sahabat terbaik untuk hidupmu, tapi jadikan dirimu sebagai yang terbaik bagi semua sahabat sejatimu.
Bandung 2001
pandir.
di tengah kebinasaanku yang menggelitik
tarik ulur senyum kulayangkan masih
laksana hipokrit mesum tertatih
menertawakan kesendiriannya
di padang badai
mungkin itulah gemuruh
mendamba semaktub oase
di sengatan hujan rinduan
laksana capitan kala
di ujung-ujung pakaian
menarik paksa tutup sgala luka busuk
—
nista
matikah aku??
dimana sang nada tak lagi bernyanyi
dimana sang penyair hilang lidah dan penanya
;dimanakah aku??
di tengah kebinasaanku yang menghinakan
senyap terdengar panggilan; SUCIKAN!
selakon pandir lapar,
roti di genggaman
;bahkan Tuhan memaafkan setiap yang berdetak.
Bandung 2002
tarik ulur senyum kulayangkan masih
laksana hipokrit mesum tertatih
menertawakan kesendiriannya
di padang badai
mungkin itulah gemuruh
mendamba semaktub oase
di sengatan hujan rinduan
laksana capitan kala
di ujung-ujung pakaian
menarik paksa tutup sgala luka busuk
—
nista
matikah aku??
dimana sang nada tak lagi bernyanyi
dimana sang penyair hilang lidah dan penanya
;dimanakah aku??
di tengah kebinasaanku yang menghinakan
senyap terdengar panggilan; SUCIKAN!
selakon pandir lapar,
roti di genggaman
;bahkan Tuhan memaafkan setiap yang berdetak.
Bandung 2002
kotaku tenggelam.
kotaku tenggelam.
dan orang masih berlarian ke sisi sisi sang kapitalis;
beraihan ulur setiap jengkal
dan anak masih berlarian di sisi sisi mobil yang berbaris;
bernyanyian menatap buram setiap kekal
--berlarian dihantui ancaman
kotaku tenggelam.
dan setiap tangan lemparkan tissue di trotoar;
bersedekapan ngusir bau jalanan
dan setiap jemari lontarkan puntung berkobar-kobar;
berhembus-hembus awan kematian
--menertawakan kekalahan mereka
kotaku tenggelam.
dan adakah ancaman terhadap ‘Ad dan Tsamud kembali terulang?;
...
dan adakah khianat para berhala kembali berulang?;
... !
dan adakah Tuhan tersenyum lagi untuk kita?
kotaku tenggelam.
Bandung 2002
dan orang masih berlarian ke sisi sisi sang kapitalis;
beraihan ulur setiap jengkal
dan anak masih berlarian di sisi sisi mobil yang berbaris;
bernyanyian menatap buram setiap kekal
--berlarian dihantui ancaman
kotaku tenggelam.
dan setiap tangan lemparkan tissue di trotoar;
bersedekapan ngusir bau jalanan
dan setiap jemari lontarkan puntung berkobar-kobar;
berhembus-hembus awan kematian
--menertawakan kekalahan mereka
kotaku tenggelam.
dan adakah ancaman terhadap ‘Ad dan Tsamud kembali terulang?;
...
dan adakah khianat para berhala kembali berulang?;
... !
dan adakah Tuhan tersenyum lagi untuk kita?
kotaku tenggelam.
Bandung 2002
bukan sesuatu yang berurutan.
satu satu aku pandangi
tiang tiang penghias padat hidup manusia
dua dua aku kelompokkan
dalam muasal dan sifat simetrikal dunia
tiga tiga aku mencari
beratus denyut dalam tiap maghribku
empat empat aku gambarkan
segala fathonah dalam alir darah
lima lima aku uraikan
iman
dan iman
dan iman
dan iman
dan iman
;Ampuni aku Tuhan.
Bandung 2002
tiang tiang penghias padat hidup manusia
dua dua aku kelompokkan
dalam muasal dan sifat simetrikal dunia
tiga tiga aku mencari
beratus denyut dalam tiap maghribku
empat empat aku gambarkan
segala fathonah dalam alir darah
lima lima aku uraikan
iman
dan iman
dan iman
dan iman
dan iman
;Ampuni aku Tuhan.
Bandung 2002
hijau.
menari titian beringin
buih hijau daun bertumpangan bertindihan
parut luka rajahi sekujur
titian ngengat ratu dan rajanya
berteduh di rimbunnya usapan
bukan indah bila tiada keteduhan kehangatan
tari ngengat ratu dan rajanya
titian parut dan luka di kujurnya
bukan kebiadaban meruyak hening
sendu nyanyi kelopak tersirat terpikat
jerit carut berdarah dan mengaing
buyarkan upacara ratu dan rajanya
--lalu si kaki dua itu datang--
;
keteduhan tiada melukiskan ranum-ranum buah
keademan tiada menghanyutkan perahu-perahu karun
kenyamanan tiada menghantarkan tandu-tandu kelana
kehijauan tiada membuka mata-mata;
... setiap kita
Bandung 2002
buih hijau daun bertumpangan bertindihan
parut luka rajahi sekujur
titian ngengat ratu dan rajanya
berteduh di rimbunnya usapan
bukan indah bila tiada keteduhan kehangatan
tari ngengat ratu dan rajanya
titian parut dan luka di kujurnya
bukan kebiadaban meruyak hening
sendu nyanyi kelopak tersirat terpikat
jerit carut berdarah dan mengaing
buyarkan upacara ratu dan rajanya
--lalu si kaki dua itu datang--
;
keteduhan tiada melukiskan ranum-ranum buah
keademan tiada menghanyutkan perahu-perahu karun
kenyamanan tiada menghantarkan tandu-tandu kelana
kehijauan tiada membuka mata-mata;
... setiap kita
Bandung 2002
senandung.
untuk sang kawan;
seorang kawan bersenandung
dalam siulan anyamkan keluh-rindu-dendam
;tapi semua terasa indah
kusiangi sealun perih terkias
bantu bersihkan serak suara khas
mungkin bila aku sembunyikan mereka di bawah dudukku?
selayak raja membisu-pasi
gundah berharap sungging si empunya harum
;dan semua terasa indah
kusiangi malam bila terulas
kutepuki pundakmu terus senandung
nyanyikanlah alunan lagi malam melepas
dan ijinkan aku, rajuti lagi siulanmu
yang terbiar membubung.
Bandung 2002
seorang kawan bersenandung
dalam siulan anyamkan keluh-rindu-dendam
;tapi semua terasa indah
kusiangi sealun perih terkias
bantu bersihkan serak suara khas
mungkin bila aku sembunyikan mereka di bawah dudukku?
selayak raja membisu-pasi
gundah berharap sungging si empunya harum
;dan semua terasa indah
kusiangi malam bila terulas
kutepuki pundakmu terus senandung
nyanyikanlah alunan lagi malam melepas
dan ijinkan aku, rajuti lagi siulanmu
yang terbiar membubung.
Bandung 2002
gelap.
bergulat menggumuli seisi ruangan ini
berkeringat berpeluh ku meringis
setubuhi helai demi helai sepi
merangkak melata kuatkan kaki-kaki
sgala sudut kamar cengkeram mengais
setubuhi diriku tak kunjung berdiri
“nyalakan saja lampumu bila takut gelap!”
Bandung 2002
berkeringat berpeluh ku meringis
setubuhi helai demi helai sepi
merangkak melata kuatkan kaki-kaki
sgala sudut kamar cengkeram mengais
setubuhi diriku tak kunjung berdiri
“nyalakan saja lampumu bila takut gelap!”
Bandung 2002
lima waktu.
untuk setiap aku;
katamu kau rindu cumbu rayu
apa harap tiba dari kelokan jalan itu?
katamu kau ingin harapkan asa
bila tiba dari ujung jalan itu?
cumbui pijar dan rona subuhmu
gandeng tangan-tangan ria di taman dzuhurmu
jangan lupa merajuk rayu di alas ashar
dan bila cinta kerap membubung di kepala;
bagaimana?
coba petik lagu-lagu senja di pintu maghrib
dan kutip malam di telapak isya’
hingga esok kita sua lagi.
Bandung 2002
katamu kau rindu cumbu rayu
apa harap tiba dari kelokan jalan itu?
katamu kau ingin harapkan asa
bila tiba dari ujung jalan itu?
cumbui pijar dan rona subuhmu
gandeng tangan-tangan ria di taman dzuhurmu
jangan lupa merajuk rayu di alas ashar
dan bila cinta kerap membubung di kepala;
bagaimana?
coba petik lagu-lagu senja di pintu maghrib
dan kutip malam di telapak isya’
hingga esok kita sua lagi.
Bandung 2002
Langganan:
Postingan (Atom)